Selasa, 24 Mei 2011

Doa buat Ummu Umar, 'Yoyoh Yusroh'

YOYOH YUSROH
  

Oleh : Tifatul Sembiring

Kepergianmu...
Menguras air mata kami
Kala kau menghilang di malam itu
Antara percaya dan tidak
Secepat itukah berlalu
Tanpa kata perpisahan
Dan ucapan selamat jalan

Mengapa yah, duka ini, seakan lekat di dada
Telah ku usap, tak jua menjadi reda
Padahal semasa hayatnya, kerap tidak sempat menyapa
Allah lebih tahu taqarrabmu
Kami jadi saksi wara' mu
Kadang terungkap keluguanmu
Bisik tilawah mendengung di rumahmu
Khudhu' wajahmu dalam khusu mahdhahmu


Keberanianmu membungkam busung dada kami
Datang ke Gazza hanya sebagian kecil bukti
Demo jilbab dibebaskan, engkaulah yang mulai
Tulusmu seperti Zaenab Ghazali
Semangatmu seperti Maryam Jamilah
Rindumu jumpa dengan Khadijah, juga shahabiyah
Shaummu yang jarang terlewatkan
Anak banyak tidak halangi langkah dakwahmu
Suami yang bersahaja setia mendampingi, hingga penghujung nafasmu

Hanya doa kupanjatkan
Allah mohon kabulkan
Ampunkan ya Allah
RidhaMu ya Allah
Hiya min ahlil khair ya Allah
Min ahlil khair ya Allah
Min ahlil khair ya Allah

Kami saksinya ya Allah
Kasihi ya Allah
Mudahkan ya Allah
Lapangkan ya Allah

Sebab ia tidak pernah mempersulit
Ringankan ya Allah
Sebab ia tidak pernah memberatkan kami ya Allah
Maafkan ia ya Allah
Sebab dia tidak pernah dendam ya Allah
SyurgaMu ya Allah
SyurgaMu ya Allah
Kami mohon ya Allah
Kasih sayangMu ya Allah
Engkau Maha Kuasa ya Allah

Allaaahhhh!!!

Sabtu, 21 Mei 2011

Selamat Jalan Bunda


Islamedia - Hari ini, usai sudah tugas yang kau emban. Tunai sudah amanah yang selama ini kau jalankan. Oleh karenanya, Allah memanggilmu. Ia ingin kau menghadap kepadaNya. Membawa selaksa Cinta, selaksa karya yang telah kau toreh dalam kurun waktu 48 tahun lebih 6 Bulan.

Pagi ini, kau mengahadapkan dirimu kepada penciptaMu, di sepertiga malam terkahir. Waktu yang biasanya kau gunakan untuk menghamba, berdua dengan Allah, pemeliharamu satu satunya. Namun, karena safar, perjalanan, kau urung melakukan itu. Sebuah kecelakaan yang berujung pada ajal, menjadi sebab kepergianmu, menghadap Ilahi. Kala itu, kau baru pulang dari Universitas Gajah Mada, menghadiri Wisuda buah hatimu. Tentunya, ada bahagia yang menyelinap di hati sucimu.

Di kebutaan pagi ketika Aku tengah menggigil kedinginan lantaran udara, sehingga urung beranjak dari pembaringan, kau dijemput oleh Izroil. Sekali lagi, Untuk menghadapkan dirimu, kepada Sang Maha Suci.

Dan berselang jam setelahnya, sebuah kabar masuk ke ponsel, ketika Aku masih bersantai leha selepas tilawah, di Rumah Allah. Kabar yang menyesakkan, mengagetkan, namun harus diterima dengan lapang dada. Karena itu Fakta, benar adanya. Kabar yang membuatku beristighfar sejadi-jadinya sembari melantunkan doa, “ Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima amal Sholihmu dan menempatkanmu di tempat terindah di SisiNya. Amiin."

Kabar itu seperti mimpi, karena begitu cepat terjadi. Bahkan seorang kolega bertanya heran, “ Benar Gak Mas ? Jangan menyebarkan pesan yang belum jelas ah!” Aku terdiam. Dan memang bingung mau menjawab apa. Perasaanku, sama dengan yang ia alami. Hampir tidak percaya. Lalu, kupencet keypad ponselku, membalas pesan itu, “ Mas, Beginilah Kematian mengajari Kita. Ia datang dengan tiba-tiba. Tanpa dikira, oleh siapaun. Ia datang, tak perlu dijemput. Dan pergi, tak usah diantar. Ia datang dan pergi, sesuai kehendak Allah, sang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.”

Kemudian, satu persatu bayang tegar wajahmu berkelabat dalam fikirku. Dimataku, Kau adalah wanita tangguh. Jika Allah meridhoi, Aku ingin mempersunting wanita yang setangguh dirimu, atau lebih tangguh Lagi. Walaupun, kusadari, Layakkah aku mempersunting wanita yang setangguh dirimu? Ah, semoga saja Allah melayakkanku, Amiin.

Medio 2008, dalam suatu acara Penggalangan Dana untuk saudara semuslim di Palestina. Itu adalah pertama kalinya Kita berjumpai. Tapi, aku seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya. Tepatnya dimana, Aku tidak tahu. Belakangan, kuketahui rasa itu bernama, TA’LIFUL QULUB. Bersatunya Hati karena kesamaan Aqidah.

Kau bagai Singa kala itu. Semangatmu mebakar jiwa  yang kerontang karena kesibukan. Tilawah pas-pasaan, tahajud hampir tidak terjamah, hanya jama’ah di masjid. Itupun kualitasnya sangat rendah. Berangkat Belakangan, Pulang duluan. Padahal Nabi bersabda, “ Yang terbaik  dinatara kamu adalah Yang PALING awal mendatangi Masjid dan PALING AKHIR meninggalkannya.” Tapi aku, kebalikan dari itu. Astaghfuirullahal ‘Adhiim.

Dengan suara yang lembut namun perkasa, kau sampaikan kepada kami, “ Saudara-saudara kita di Palestina,” Suaranya benar-benar Perkasa, meruntuhkan tebalnya kabut dosa di hatiku.” Masih sempat melaksanakan Qiyamullail dan Hafalan Qur’an” Aku mulai tersentak, nampaknya Kau akan menyindirku. “ Padahal di kanan, Kiri, depan dan belakang Mereka adalah BOM, Ranjau yang sengaja di pasang oleh Zionis laknatullah dan siap meledak kapanpun”  Benar kan kataku. Ia menyindirku, telak. Aku tak berkutik. Seperti mati langkah. Aku hanya pasrah dan membiarkan mataku mengalirkan airnya, membasahi pipiku yang  lama tak menangis karena takut kepada Allah. Allahu Akbar Walillahil Hamd. “ Sementara Kita, yang nyaman, enak, damai dan tidak dilanda konflik bersenjata, dengan tanpa merasa bersalah meningalkan TAHAJUD, melupakan hafalan Qur’an dengan dalih yang remeh temeh,  Sibuk Bekerja.”  Lanjutnya berapi-api.  “Ya Allah , Ampuni kelalaian kami selama ini.” Doaku kala itu.


Setelah itu, aku melihatmu dengan gigih berdakwah, menghadiri setiap kajian terkait Palestina dan Timur Tengah. Bahkan, aku dibakar cemburu, ketika kulihat engkau berada di tengah Pejuang Palestina. Ketika Kau berfoto bersama Ustadz Ismail Haniya. Perdana Menteri Palestina dari HAMAS, Harokatul Muqowwamah Al Islamiyah. “ Barokallahu fiik Bu, semoga Allah senantiasa menjagamu dan memanjangkan langkah Dakwahmu.” Bisikku iri, ketika melihat gambar itu.

Kemudian,  terakhir kali bertemu denganmu, akhir April 2011. Kau bersinergi bersama mentari membakar diriku. Mentari membakar kulit dan fisik, sementara Engkau membakar semangatku yang mulai lumpuh, dengan taujihmu. Luar Biasa !!! Suaramu masih sama. Lembut namun perkasa. Kau berhasil melelehkan air mataku, di waktu bersamaan, kau membuat jiwaku bergelora, semangat meluap berlipat-lipat. Allahu Akbar walillahil hamd !!! peristiwa ini, kucatat sebagai momen perpisahan kita di sini. Semoga Allah berkenan Menjumpakan kita di tempat yang lebih baik disisiNya.Amiin.


Pada kesempatan lain, dalam taujihmu , Kau pernah berkata, “ Dan Kita akan bersama sama Sholat berjama’ah di masjidil Aqsho. Allahu Akbar walillahil Hamd.” Kamipun menyambut kalimat itu dengan takbir serupa, dengan semangat dan visi yang sama , PALESTINA MERDEKA. Dan kini,  Kau lebih dulu menghadapkan diri kepada Sang Pencipta. Nampakanya, karena hal itu, Kau tidak bisa berjama’ah bersamaku di Al Aqsho di dunia ini.

Baiklah Bu, nampaknya tak kan pernah usai jika kutuliskan semua rasaku. Aku telah menganggapmu sebagai Ibuku, Ibu seaqidah. Walaupun tidak pernah bersua secara khusus. Pun, Aku tak pernah berbicara denganmu secara langsung. Tapi, Aku akan berusaha, akan kulanjutkan semangatmu dalam berjuang. Semoga aku bisa menyusulmu ke Palestina, Jika Allah menghendaki.

Selamat Jalan Bu, Aku bersaksi bahwa kau adalah orang baik. Dan aku yakin, bahwa Allah Maha Menepati Janji. Semoga Kau lebih baik dari yang Aku kira.

Jasadmu telah pergi. Tidak mungkin kujumpai lagi. Hanya foto-foto perjuangan yang kusimpan, sebagai kenang-kenangan. Kelak, akan kuberitahu anak-anakkau tentang dirimu, bahwa Kau adalah MUJAHIDAH TANGGUH ZAMAN INI. Namun, benih Semangat , benih Perjuangan yang telah kau tanam, pasti akan bersemi,dan kelak berbuah. Beriring dengan kepergianmu, menemui Robb Kita. Semoga Allah Memberi Khusnul Khotimah kepadamu, juga kepada kami semuanya.

Selamat Jalan Bu, baik – baik di sana ya. Kami akan terus berjuang, semampu kami, hingga Islam benar benar Berjaya. Allahu Akbar walillahil Hamd !!!

Tak terasa, ada bulir yang mengalir lembut.
Sabtu Pagi, 18 Jumadil Tsani 1432 H / 21 Mei 2011 M.

Kamis, 19 Mei 2011

Keuntungan Berjuang Di Jalan Alloh SWT

Saudaraku, Berjuang  menegakkan Agama Alloh adalah sebuah kewajiban yang sudah tersemat dipundak setiap mukmin, semakin menyadari  kebutuhan kita akan kasih sayang  Alloh, maka akan semakin besarlah tanggung jawab seorang mukmin dalam memperjuangkan agama Alloh (Al-Islam). Semakin cintanya seseorang kepada Alloh, semakin kuatlah keinginan seseorang dalam memperjuangkan agamaNya.

Saudaraku, dunia ini dipenuhi dengan transaksi jual beli dan Alloh SWT menegaskan dalam Al-Quran bahwa transaksi yang paling menguntungkan adalah berjual beli dengan Alloh SWT (Berjihad/Berdakwah), dalam Al-Qur'an Surat Ash-Shaff  ayat 10-11:


Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (10)



(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (11)


Didalam ayat ini Alloh SWT mempromosikan proyek niagaNya kepada kita, sekaligus mengumumkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh orang – orang yang berminat melakukan perniagaan denganNya,



Syarat –syarat berniaga dengan Alloh :


1. Iman kepada Alloh dan Rasul (Tu’minuna billahi warosulihi): Ini menjadi syarat utama dalam berjuang ,kerena tanpa keimanan seseorang tak akan mungkin mau bertransaksi dengan Alloh dan tanpa keimanan ibarat robot yang bekerja tanpa hati (Ruh) dan dengan ruh inilah seseorang akan tahan terhadap ujian perjuangan.

2.Berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwa (watujaahiduuna fiisabiilillaahi biamwalikum waanfusikum): harta dan jiwa adalah satu kesatuan dalam perjuangan,jika kita menengok sejarah perjuangan Rasululloh dan para sahabatnya,mereka telah mengorbankan harta dan jiwa seperti Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khottob, Abdurrahman bin Auf dan lainnya.

3.Memahami karakter dan keuntungan perjuangan (inkuntum Ta’lamuun) : Setiap orang yang mengetahui dan meyakini keuntungan berniaga dengan Alloh ,pasti akan melakukan transaksi denganNya. Apa sajakah keuntungan berniaga (berjuang di jalan Alloh) ? dijelaskan oleh Alloh dalam Al-Qur'an Surat Ash-Shaff ayat ayat ke 12-13:

Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (12)



Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (13)

Keuntungan berniaga dengan Alloh dalam Al Qur'an Surat Ash Shaff :12-13

  1. Terampuni dari dosa-dosa (Yagfirlakum dzunuubakum) 
  2. Dimasukkan kedalam Syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai (wayudhilkum - jannatun tajrii min tahtihal anhaar)  
  3. Kehidupan yang baik di syurga Adn (wamasaakina thoyyibatan fi jannati adn)
Ketiga keuntungan diatas disebut oleh Alloh sebagai kemenangan/keuntungan yang besar (fauzul Adziim)

Selain keuntungan yang besar tersebut diatas ternyata Alloh juga menawarkan keuntungan yang bersifat kontan  yang bisa langsung dirasakan didunia yaitu pertolongan Alloh (nashrumminalloh) dan kemenangan yang dekat (Fathun Qoriib). 

Jika mau di terjemahkan kedalam kehidupan para pejuang dakwah saat ini , betapa banyak nikmat dan karunia Alloh yang bisa langsung dirasakan oleh para Da'i seperti : keberkahan/kemudahan rizki, semakin banyaknya jumlah pendukung dakwah (Ta’yiidud da’wah), memiliki kesempatan untuk memimpin dan mengambil kebijakan diwilayah tertentu, semakin semaraknya wajihah-wajihah (lembaga-lembaga yang memperjuangkan dakwah), tersosialisasikannya syariat islam meskipun baru sebatas rasionalisasi belum formalisasi seperti hadirnya bank-bank syariah,munculnya media-media islami, dan lain-lain.

Dan inilah kabar-kabar gembira (wabasysyiril mu’miniin) yang Alloh sampaikan kepada kita melalui Surat cintaNya (Al-Qur-an) dalam rangka merangsang kita agar kita mau berpartisipasi aktif dalam upaya memperjuangkan agama Alloh SWT dan memenangkannya. firman Alloh dalam Al-Quran Surat Ash-Shaff ayat ke 9:



Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.(9)


Saudaraku, marilah kita berjuang untuk Dinul Islam mulia dalam dakwah Islamiyah Istimroriyah agar kita mendapatkan semua keuntungan yang Alloh janjikan.

Wallohu a’lam bishowab.

Rabu, 18 Mei 2011

Tiada Sebelum Ada.....sesuatu yang teramat dekat

By Nurul F Huda          

Maukah kali ini anda saya ajak berbagi? Berbagi pengalaman yang meski terkesan personal bukan tidak mungkin nilai dan nuansa emosional yang terkandung di dalamnya sangatlah universal. Sekali-kali saya bukan ingin memanfaatkan ruang publik ini untuk kepentingan pribadi, tetapi saya meyakini bahwa tak ada pengalaman yang dialami oleh satu pribadi kecuali hal tersebut berguna sebagai cermin bagi orang lain.


Itulah mengapa ada penulis, ada sejarawan, ada antropolog, arekeolog, bahkan perawi hadist (untuk urusan terakhir ini memang bukan sekedar sejarah karena penelusuran keautentikannya yang hingga menelusuri kualitas alur penuturnya).            


Pengalaman apakah itu? Pengalaman berinteraksi dengan maut. Hah?! Benar. Sebuah pengalaman yang menyadarkan betapa maut sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita dan tidak pernah bisa kita hitung kapan akan tiba, pun siapa yang akan dipilihnya. Anehnya, begitu banyak manusia yang seolah tidak pernah sadar bahwa maut adalah bagian keniscayaan hidupnya. Sesuatu yang pasti akan terjadi, namun kapan, di mana dan bagaimananya tidak bisa diketahui dengan pasti.            


Pernahkah Sandriani (korban pembunuhan di Batam) berpikir bahwa suatu ketika ia harus menemui maut dengan cara yang begitu menggemparkan? Tentu tidak. Bahkan, hingga detik terakhir pun ia tidak mengetahui. Andai ia bisa tahu, minimal setengah hari sebelum maut menjemput, mungkin ia bisa meninggalkan pesan tentang apa yang akan terjadi dan siapa yang terlibat di dalamnya sehingga Mabes Polri tidak perlu pusing datang ke Batam. Tapi, itulah maut. Misteri yang sering dilupakan manusia. Bagian yang peling dekat dan pasti darinya tetapi sering dianggap tidak ada, minimal jauh jauh di sana.            


Ceritanya, Allah kembali menitipkan calon manusia di rahim saya. Calon anak ketiga. Kami semua (saya, suami, anak-anak) sangat senang. Di kehamilan ketiga ini upaya penjagaan kami optimalkan karena memang sudah empat tahun lebih sejak anak kedua kami menahan diri untuk belum menambah lagi dengan beberapa pertimbangan. Penjagaan yang bagi kami cukup menggerus energi, biaya dan emosi.


Bulan pertama kehamilan berjalan lancar, paling hanya mabuk sebagaiaman layaknya orang hamil muda. Mabuk yang bisa terobati kala banyak melakukan aktifitas di luar rumah meski harus menyisakan rasa lelah sesudahnya. Toh, dua kehamilan sebelumnya juga begitu. Mabuk dan pelan tapi pasti tubuh saya mengurus meski berat badan bertambah. Jadi, enjoy saja.            


Malam Rabu, tanggal 13 Agustus 2007 adalah malam yang membuat saya tersadar betapa tidak berdayanya manusia tanpa kehendak-Nya. Ruang periksa dr. Adriyanti SPOG menjadi ruang pegadilan yang menunjukkan bukti kekuasaan Tuhan. “Nurul, kita ketemu sebulan lalu, ya?” tanyanya lembut. Saya mengiyakan. Lalu, keputusan itu dipaparkan. Allah menghentikan proses pertumbuhan janin yang saya kandung. Di usianya yang belum sempat bernyawa, Tuhan telah mengambil titipan itu dari saya.


Sedih? Tentu saja. Namun, kesadaran bahwa apa yang kita miliki sekarang bukanlah milik kita yang sebenarnya membuat saya berkata tegar setelah sempat terdiam. “Nggak papa, dok. Belum rejeki. He always give me the best. There’s something behind this, I hope I’ll find it.” Ujar saya. Tegar di luar, mudah-mudahan disabarkan di dalam. Diagnosis kuatnya memang karena sinkronisasi gen tidak jalan. Artinya, faktor internal calon bayi itu yang membuat pertumbuhan terhenti. Bukan karena asupan makanan, kelelahan atau faktor eksternal lain. Meski begitu, saya tetap dibekali surat chek ke laborat. Yang jelas, calon anak saya harus dikeluarkan alias dikuret.            


Kesabaran adanya di awal, begitu Rasul bersabda. Sabar… sabar, meski air mata akhirnya keluar juga. Saat malam memeluk makhluk dalam mimpi dan sepi menghantar sujud ke hadapan Ilahi, tangis itu teradukan juga ke hadapan Sang Pemberi. Terlebih saat membaca ayat-ayat-Nya, bagian awal surat An Nisa pula yang terkembang di tangan. Kullu nafsin dza iqotul maut. Setiap yang berjiwa akan mati. Setiap yang diciptakan-Nya akan menemui titik akhir. Nothing last forever. Selanjutnya, isbiru wasabiru warabithu. Bersabarlah dan bersabar serta tetaplah dalam kesabaran. Ah, selain kesabaran, apakah saya punya pilihan lain yang lebih baik? Meski ayat itu sudah begitu lekat di ingatan, rasanya malam itulah ayat-ayat tersebut khusus Allah pilihkan untuk saya.            


Maut. Semua yang berjiwa akan mati. Semua makhluk akan berakhir. Jangankan yang sudah berusia kepala enam, bahkan yang belum lagi dikeluarkan dari perut ibunya pun dekat dengan kematian. Siapa yang akan menyusul kemudian diantara kami? Aku? Suamiku? Anak-anakku?. Kapan? Satu dasa warsa? Setahun? Sebulan? Sehari?. Di mana? Di Batam? Di kampung? Di tempat yang tidak dikenal? Tidak ada yang mengetahui, termasuk si calon mayat sendiri.


Maut sangat dekat, bahkan paling dekat dengan kehidupan. Namun, anehnya manusia menganggap dia seolah tak ada. Buktinya, manusia mudah melakukan kejahatan, menikmati dunia seolah akan terus bersamanya, menuruti hawa nafsu seakan itulah inti kehidupannya. Padahal, seandainya manusia mau sering-sering bertanya sebagaimana anak sulung saya bertanya (ia menangis ketika saya beritahu bahwa adiknya diambil kembali oleh Yang Maha Pencipta), mungkin manusia mau mengerem nafsunya dan mengendalikan kelakuannya. Pertanyaan anak saya adalah, “Mengapa adik belum jadi anak, belum jadi kakek-kakek kok sudah mati?” “Karena Allah maunya begitu. Semua yang Allah mau, pasti terjadi.” 

Hakekat kehidupan adalah kematian dan kebenaran dari sebuah kehidupan hanya ada setelah kematian. Anda setuju dengan filosofi saya tersebut?   



....Innalillahi wa inna ilaihi roji'un....
Telah meninggal dunia Nurul F Huda, seorang penulis sekaligus pendiri FLP Jogja, hari ini Rabu 18 Mei 2011 pukul 03.15 WIB di RS Sardjito Yogyakarta.


*) tulisan ini admin ambil dari blog pribadi NURUL F HUDA   
http://nurulfhuda.multiply.com/journal/item/16

Selasa, 17 Mei 2011

KulTwit @SalimAFillah : Doa Pagi

 Allah, jadikan ikhlasku bagai susu. Tak campur kotoran, tak disusup darah. Murni, bergizi, menguati. Langit ridha, bumi terilhami.
• Allah, jadikan dosa mendekatkanku padaMu dengan taubat nashuha. Jadikan ibadah tak menjauhkanku dariMu gara-gara membangga.
• Allah, untuk tanah nan gersang; jadikan aku embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan menghias malamnya.
• Allah, jika aku harus berteman khawatir, jadikan ia dzikirku mengingatMu.
• Allah, jika aku harus berteman rasa takut, jadikan ia penghalang dari mendurhakaiMu.
• Allah, jika aku harus berkawan gelisah, jadikan ia titik mula amal-amal shalih menjemput keajaiban menenangkan.
• Allah, jadikan semua gejolak di dalam hatiku mengantarku mendekat pada ridha dan surgaMu.
• Allah, berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini; menebar kebaikan, mencantikkan kebenaran, menggerakkan perbaikan.
• Allah, lempangkan lisanku dalam kebenaran, indahkan tuturku dengan kesantunan, jadikan yang mendengar terbimbingkan.
• Allah, ilhamkan kebajikan di tiap huruf yang terucap, lahirkan amal tuk setiap kata yang terbicara, alirkan pahala tiada putusnya.
• Allah, jangan henti rindu pada NabiMu menyala syahdu, agar akhlaq teladannya merembesi tingkahku.
• Allah, jangan henti gelegak neraka menyergap menggiriskan, di tiap hasrat nista dan goda kemaksiatan.
• Allah, jangan henti bayang surgaMu melekati mata, di tiap niat dan kesempatan amal shalih nan terbuka.
• Allah, jangan henti keesaanMu terteguh di jiwaku, sebab kuasa dan rizqiMu juga tak sedetikpun berpisah dariku.
• Allah, jangan henti bimbingMu menuntunku, selama jantung berdenyut selalu, semasih Kau hembuskan nafas dalam paru.
• Allah, jangan henti kasihMu mengguyuriku, hingga santun budiku menebar rasa sayang, bahkan membalik penentang jadi pejuang.
• Allah, jangan henti keagunganMu tertaut dalam nyali, hingga kuhadapi segala yang aniaya dengan gagah dan berani.
• Allah, jangan henti kemuliaanMu menyusupi syaraf-syarafku, hingga tiap ilmu jadi amal, tiap hasrat baik jadi akhlaq terlaku.
• Allah, jangan henti penjagaanMu mengarus dalam darahku, hingga syaithan tak beroleh tempat dalam alirannya menderu.
• Allah, jangan henti rasa malu padaMu menyumsum di tulangku, mengurat di ototku; hingga semua gerak dalam ridhaMu.
• Allah, jangan henti keindahanMu mengilhamkan senyum dan cerah di wajahku, agar pergaulanku semanis madu.
• Allah, jangan henti kebenaranMu tertambat di akal dan lisanku, terpancar dalam sikap, terjuang di tiap kalimat.
• Allah, jangan henti namaMu menyapa hati dan jiwa, dengan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta.

Jogjakarta, 13 April 2011

*)sumber: http://twitter.com/salimafillah

Pengakuan Mantan Tentara Yang Ikut Andil Dalam Pembunuhan Hasan Al-Banna

Kirim Print
Abdul Hamid Mahmud Abdullah- As-Syawisy Abdul Hamid: Salim Pasha Zaki yang memberikan saya upah untuk melakukan operasi ini dan eksekusi di lakukan oleh Syalom
- Tugas saya adalah meghalau dan memukul orang-orang dengan senjata pecul, sehingga tidak ada orang yang bergabung dan kumpul dengan syeikh Hasan…
- Kami menerima upah dari raja 200 pound Mesir dan sebuah jam emas dan 300 pound Mesir untuk Syalom..
- Inggris mengetahui operasi pembunuhan ini, namun hanya 4 orang yang menjadi dalang dan otak pembunuhannya.
Diterbitkan dengan tulisan oleh Abdul Hamid Asy-syarqawi dan Khalid Afifi-ikhwanonline.com:
Penerjemah:
Abu Ahmad
_______
Ikhwanonline.com menerbitkan tulisan tentang pengakuan As-Syawisy Abdul Hamid Mahmud Abdullah, salah seorang tentara yang ekskusi proses pembunuhan Imam Syahid Hasan Al-Banna pada 60 tahun yang lalu, yang mana beliau menceritakannya dalam bentuk gambar dan suara -Audio visual-, Beliau menceritakan bagaimana kronologi pembunuhan Hasan Al-Banna yang dibiayai langsung oleh Mayor Jenderal Salim Zaki komisaris Kairo saat itu; yang mendapatkan biaya operasi pembunuhan dari Raja Farouk kepada beberapa orang bersenjata penjaga perbatasan Mesir, dan dia berkata bahwa orang yang melakukan eksekusi adalah teman-teman mereka yaitu Muhammad Al-Jazar yang terkenal dengan sebutan Muhammad Shalom, yang mendapatkan upah melalui Salim Pasha sebesar 300 Pound Mesir dan satu buah jam emas.

Pada awal pertemuan, Abdul Hamid Mahmud Abdullah menceritakan bahwa dirinya lahir pada tahun 1926, lalu mendaftar sebagai tentara perbatasan pada tanggal 3 Juli 1947, dan umurnya pada saat itu 18 tahun; dan dirinya terkejut dengan adanya pelatihan khusus di dalam satuan barisannya dan mendapat perintah langsung dari komandan penjaga perbatasan “Pasha”, sebuah perintah untuk membawa senjata “Pecut” bersama dengan rekan yang lainnya, dan tugas mereka adalah membubarkan orang-orang agar tidak masuk ke king Nazili Street (sekarang Ramses), sedangkan Muhammad Shalom  ditugaskan membunuh Syeikh Hassan Al-Banna, dan ikut bersamanya Taufiq Said, sementara yang melakukan monitoring adalah Salim Zaki Pasha,  Komisaris modal. 

Abdul Hamid menceritakan, rincian peristiwa terjadi pada malam hari lebih dari 60 tahun yang lalu, dia berkata: waktu itu Kami turun dari mobil, dan  bersama Kami, Taufiq Said dan Muhammad Shalom. Adapun Said dan Shalom bertugas memonitoring Syeikh Hassan Al-Banna,  lalu keduanya shalat bersamanya di dalam masjid yang terletak di samping yayasan Pemuda Muslim, dan bersama syeikh Hasan Al-Banna ada satu orang, kemudian Shalom melakukan tugasnya dengan menembakkan senjata ke tubuh Syeikh Hassan Al-Banna dengan pistolnya sebanyak 6 kali, dan peristiwa tersebut dilakukan dalam tempo seperempat jam saja. 

Abdul Hamid menambahkan bahwa dirinya bersih dari darah Syeikh Hassan Al-Banna, namun kejahatannya adalah bahwa beliau ditugaskan untuk menghalau dan memukul warga yang lain agar tidak melewati jalan tersebut dan berkerumun pada jasad Syeikh Hasan Al-Banna. dia menambahkan: “Saya terus terang memukul orang-orang dengan ”Pecut” sehingga berlari dari hadapan saya  dan jika saya tidak pukul mereka maka mereka yang akan memukul atau membunuh kami. 

Beliau menjelaskan bahwa dirinya dan kawan-kawan lainnya mendapatkan upah langsung dari Raja dalam tugas khusus ini, yang diberikan oleh Hussein Zaki Pasha,  yaitu berupa uang sebesar 200 pound Mesir, dan ditambah dengan satu buah jam emas, sementara Shalom menerima upah sebesar 300 pound dan satu buah jam emas. Dia juga mengatakan; Pasha Salim Zaki Pasha memberitahu kami bahwa hal ini merupakan hadiah dari Raja,  dan menegaskan bahwa mereka tidak perlu menemui raja. Saat itu mereka menganggap bahwa Salim Zaki Pasha adalah orang kedua setelah Raja  Dan lebih kuat dari Perdana Menteri sendiri. 

Selanjutnya, dalam tulisan ini kami sampaikan kepada pembaca pengakuannya secara tertulis, kesaksian akan kronologi pembunuhan Hasan Al-Banna, dan sebelumnya kami sampaikan kepada para pembaca bahwa As-Syawisy Abdul Hamid yang telah melakukan kesaksian darinya, berumur melebihi delapan puluh tahun, dan memiliki masalah pendengaran, karena itu semua pertanyaan  diajukan secara tertulis sehingga dirinya dapat membaca kemudian menjawabnya:  

Perkenalan: Nama saya  adalah Abdul Hamid Mahmud Abdullah, lahir pada tahun 26 milady (1926-red) dan saya adalah orang pertama yang bergabung dalam ketentaraan  Kerajaan Mesir yang bertugas di perbatasan, pertama kali saya bertugas pada tanggal 3-7-1947, waktu itu saya baru selesai dari latihan, masih fresh, baru keluar dan selesai dari latihan.

Tanya: Siapa yang memerintahkan Anda melakukan tugas ini? Dan siapa yang menjadi komandan langsung dalam tugas ini?

Jawab: Raja, dialah yang menugaskan langsung operasi ini, dan seluruhnya atas komando langsung dari Salim Zaki  Pasha, dia adalah tangan kanannya Raja, adapun rincian kronologi nya adalah, ketika syeikh Hassan Al Banna keluar dari masjid  yang terletak di samping jam’iyah Ikhwanul Muslimin (Asy-Syubbanul Muslimin) dan bersamanya Taufiq Said dan Muhammad Al-Jazzar (Muhammad Shalom) satu berjalan begini dan yang lainnya begini, lalu menembakkan senjata ke tubuh Hasan Al-Banna sebanyak 6 kali. 

Tanya: Jadi Anda berada dimana sewaktu kejadian?

Jawab: Saya tidak tahu menahu masalah ini, tugas saya adalah menghalau orang-orang agar menjauh dari tempat kejadian, betul saya hanya menghalau orang-orang dengan senjata “pecut”, kemudian mereka lari dari saya dan saya pun pergi ke pintu, dan selain itu saya tidak tahu apa-apa, sementara yang pegang senjata adalah Muhammad Shalom.
Yang bertugas mengekskusi adalah Muhammad Shalom, tugas saya adalah menghalau orang, dan saya tidak berada di tempat penembakan, karena Salim Zaki hanya memberi saya senjata perbatasan dan dia menyuruh saya  untuk menghalau dan membubarkan orang-orang.

Upah

Tanya: Apakah Anda mendapatkan upah dari operasi tersebut?

Jawab: Ya, Raja memberikan kepada setiap orang hadiah berupa satu buah jam dari emas dan uang sebesar 200 pound, sementara Shalom menerima 300 pound dan satu buah jam dari emas, pada saat itu saya masih muda, umur saya baru 18 tahun, sementara Salim Pasha yang memiliki peranan dan kendali, Mesir berada di tangan kekuasaan Salim Zaki, Komisaris Modal seluruhnya. 

Tanya : Apakah Anda berjumpa dengan raja?

Jawab: Tidak.. saya tidak berjumpa siapa pun, semuanya ada pada kendali Salim Pasha.. dialah menjadi komando semua ini.

Tanya: Apakah Salim Pasha yang memerintahkan ini semua?

Jawab: Zaki lah yang memberikan semua perintah ini kepada Pasha. Dan Pasha memberikan kepada kami beberapa tugas; dia berkata kepada Muhammad: “Tembak dan kami akan berusaha menutupinya”. Cukup, kami tidak tahu apa-apa terhadap urusan ini, dan Pasha menyampaikan perintah kepada setiap orang langsung oleh dirinya sendiri, dan bagaimana Muhammad menembak nya, dia sampaikan kepada saya dengan pecut. 

Tanya: Siapa yang dimaksud dengan Pasha?

Jawab: yang dimaksud dengan Pasha adalah direktur tentara perbatasan, saya tidak tahu persis namanya siapa, saya Cuma kenal dengan sebutan Pasha besar. 

Tanya: Anda tidak menyesal melakukan kejahatan ini?

Jawab: Saya tidak tahu apa-apa masalah ini .. karena yang saya lakukan hanyalah menghalau orang-orang dengan pecut, dan saya shalat, saya pergi haji, saya tobat kepada Allah. Kesalahan saya hanyalah menghalau orang saja, saya tidak punya unta betina dan unta jantan (tidak lebih dari itu-red). 

Tanya: Jadi siapa yang mesti dituduh?

Jawab: Terdakwa pertama adalah Mohammed  Shalom yang melakukan penembakan langsung sebanyak dua kali bukan hanya sekali, dan saya hanya berlari, dan tugas saya adalah berlari di belakang orang-orang; karena saya khawatir mereka akan mengatakan kepada tentara perbatasan bahwa saya tidak berlari di belakang orang-orang.. seakan kelompok tersebut (jamaah Ikhwan-red) melakukan penembakan, membunuh orang-orang seperti minum air saja.

Tanya: Apakah setelah itu ambulans datang ke tempat kejadian?

Jawab: Ambulans datang setengah jam setelahnya

Setengah mengucapkan Syahadah  

Tanya: Apa yang Anda lakukan setelah itu?

 Jawab: Saya tidak tahu apa yang terjadi kecuali senjata pistol telah membunuh, kemudian saya masuk pintu gerbang ..  saya buka topeng, lalu pakai jalabiyah (baju gamis) dan berlari sepanjang jalan.. kurang lebih seperempat jam dan tugas saya selesai.

Tanya: Apakah Anda yakin pada saat itu bahwa Syaikh Hassan Al-Banna  telah mati?

Jawab: saya tidak tahu apakah dia sudah mati atau belum, hanya saja saya mendengar darinya mengucapkan syahadah, dia berkata: “La ilaaha Illallah” (Tidak ada Tuhan selain Allah), itu saja dan tidak mengucapkan: “Muhammad Rasulullah” (Muhammad itu adalah utusan Allah). Lalu saya bertanya kepada Shalom: “kenapa orang ini bersyahadat seperti itu?”, Ia berkata kepada saya: “Saya tidak tahu…sepertinya dia masih hidup, dan bicaranya banyak sekali setelah ditembak, dia belum mati saat berada di jalan tadi, namun dia telah meninggal saati berada di ambulans.. ditubuhnya terdapat 5 atau 6 peluru, dan tidak ada seorang pun yang membantunya”, dan jalanan saat itu seluruhnya sudah bersih; tidak ada seorang pun yang tahu, dan saya tinggal sendirian, saya saat itu berumur 18 tahun, dan tugas saya waktu itu hanya menghalau orang-orang ..  itu saja tidak ada yang lainnya ..  saya menghalau orang-orang agar tidak datang menghampiri tempat kejadian, dan saya dengan rekan saya memukul orang-orang..  Mereka  berkata kepada saya, bubarkan jalanan, sedangkan yang bertugas mengekskusi adalah Muhammad Shalom, dan Salim Zaki dan Taufiq Said sebagai komandannya; keduanyalah yang melihat dan tahu betul kejadiannya.. sementara saya tidak tahu sama sekali.. 

Tanya: Apakah saat peristiwa terjadi ada orang lain?

Jawab: waktu itu jalanan gelap, dan toko-toko sudah pada tutup, dan lampu jalanan seluruhnya dimatikan, sedangkan yang ada di jalanan adalah jamaah Ikhwanul Muslimin itu sendiri yang dipukul, hanya ada dua toko yang masih buka, dan  ada juga toko emas yang masih buka; sekitar dua atau tiga toko.

 Tanya: Siapa yang lebih tahu dan bertanggung jawab terhadap operasi ini?

 Jawab: Yang lebih tahu masalah ini ada tiga orang: Muhammad Al-Jazzar, Salim  Zaki, Taufiq Said, sementara raja adalah bos besarnya; empat orang inilah yang mengetahui betul kejadiannya.. mereka berkata: Bunuh dia, karena telah banyak melakukan masalah di perbatasan dan membantah perintah raja. Empat orang inilah yang tahu persisi peristiwanya, dan Muhammad Al-Jazar, ketika dia masih hidup sangat dekat sekali, dan saat ini seluruh orang tersebut telah mati, sementara raja yang mulia, adalah bos besar kami.
Semua orang takut kepadanya, semua orang berada dalam  kekuasaannya, dan Zaki berada di belakangnya langsung; dia bertemu dengan salah seorang warga dari Inggris, tidak ada manfaatnya bertanya kepadanya dan akhirnya datang yang kedua, kemudian yang ketiga, kemudian datang Salim Pasha, komisaris modal. 

Tanya: Apakah Inggris memiliki andil dan kontribusi dalam peristiwa ini?

Jawab: Inggris saat itu menguasai Mesir, dengan tujuan apa yang disampaikan oleh Abdul Nasser .. tidak ada seorang yang berani mengatakan tiga tambah tiga berapa, dan mereka punya berita, dan mungkin wallahu a’lam, mereka menyampaikannya pada saat di perbatasan bahwa Pasha menerima berita untuk membunuh Hasan Al-Banna, dan yang lebih tahu masalah ini adalah Salim Zaki Pasha, dan semuanya telah meninggal pada tahun enam puluhan.

Dan Allah Maha Kuasa,  yang telah memberikan kepada manusia hak mereka, Allah berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمْ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh”. (An-Nisa:78)

Salim Zaki mati karena kecelakaan saat tersentuh air dan air tersebut teraliri listrik.
Saya sampaikan kepada Anda bahwa satu-satunya kesalahan saya adalah menghalau dan membubarkan atau memukul orang-orang, namun kalau saya tidak memukul mereka, maka mereka yang akan bunuh saya seperti minum air; karena mereka itu adalah para pejabat Mesir.

*) sumber http://www.al-ikhwan.net/

Kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin

 
Kepiawaian Syaikh Yusuf al-Qaradhawi sebagai ulama yang penulis sudah tidak diragukan lagi. Berbagai literatur fiqih berkualitas tinggi telah lahir dari tangannya, sebutlah misalnya – yang beredar di Indonesia – seperti Fiqh Zakat dan Fiqih Prioritas. Akan tetapi, selain buku-buku fiqih yang disusun secara sistematis itu, Syaikh al-Qaradhawi juga memiliki sejumlah karya fenomenal yang ‘lain daripada yang lain’.

Buku Kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin memang berbeda. Karena buku ini merupakan semacam memoar atau jurnal perjalanan, maka penuturannya begitu hidup, bahkan menggairahkan! Kita seolah-olah bisa merasakan betapa besarnya semangat dakwah Syaikh al-Qaradhawi ketika beliau menceritakan perjalanan dakwahnya dari Thanta ke Kfar Syaikh. Saat itu, beliau hanyalah seorang mahasiswa sederhana dengan uang yang sangat pas-pasan untuk pulang-pergi dalam perjalanan tersebut. Ikhwah dari Thanta mengira transportasi akan ditanggung ikhwah Kfar Syaikh, sedangkan ikhwah Kfar Syaikh justru mengira ikhwah Thanta telah membekalinya dengan dana yang cukup. Namun beliau justru terdampar di tengah jalan tanpa uang sama sekali dan perut yang kelaparan karena baru berbuka shaum dengan minuman, bertekad untuk menempuh jarak 11 kilometer dengan berjalan kaki karena tak ingin merepotkan siapa pun. Kemudian Allah menurunkan pertolongan, sehingga perjalanan yang penuh berkah itu berakhir dengan penuh kebahagiaan.

Meskipun buku ini sarat dengan kisah bahagia – dan Syaikh al-Qaradhawi memang menyatakan sendiri kebahagiaannya mendapatkan kesempatan untuk hidup sebagai bagian dari jamaah Ikhwanul Muslimin – namun daya tariknya justru terletak pada perspektif beliau dalam menyikapi cobaan-cobaan yang menimpa dakwah ini. Mulai dari pertentangan antara Al-Ikhwan dengan Partai Wafd, kepahlawanan Al-Ikhwan di Palestina yang dibalas dengan penangkapan masal oleh pemerintah Mesir, pembangkangan Nizham Khas terhadap Mursyid ‘Am, pembunuhan yang dilakukan oleh anggota Al-Ikhwan terhadap saudaranya sendiri, hingga penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nashir dan algojonya, Hamzah Basyuni.

Sebagian dari kasus-kasus yang dijelaskan dalam buku ini barangkali masih asing bagi kader dakwah di Indonesia. Banyak yang bingung mengapa para asatidz yang dulunya mendukung dakwah kini berbalik memusuhinya, padahal yang terjadi pada Imam Hasan al-Banna malah lebih buruk daripada itu. Beliau sendiri yang mendirikan Nizham Khas sebagai organisasi rahasia yang memiliki tujuan mulia demi kemuliaan Islam, namun justru Nizham Khas itulah yang pertama kali bertindak serampangan dengan membunuh seorang hakim. Memang hakim itu dikenal telah menzalimi Al-Ikhwan dalam kasus-kasus yang direkayasa oleh pemerintah, namun Hasan al-Banna sedikitpun tak pernah berpikir untuk memusuhi para hakim, apalagi memberikan instruksi untuk membunuhnya. Akibat dari tindakan ekstrem ini, tekanan terhadap Al-Ikhwan semakin kuat, hakim yang dibunuh diganti dengan yang lebih kejam, Syaikh Sayyid Sabiq yang dikenal lembut justru dituduh sebagai pembuat fatwa pembunuhan, dan Syaikh al-Qaradhawi sendiri pada akhirnya ikut dikejar-kejar dan dijebloskan ke penjara.

Pembangkangan Nizham Khas semakin nampak jelas dalam pertentangannya dengan Mursyid ‘Am kedua, yaitu Hasan al-Hudhaibi, bahkan mereka sampai menduduki Markaz ‘Am Al-Ikhwan. Di akhir bukunya, Syaikh al-Qaradhawi menjelaskan ketidaksetujuannya terhadap keberadaan organisasi rahasia seperti Nizham Khas, karena tabiatnya yang seperti ‘negara di dalam negara’ dan bahaya timbulnya kesombongan diantara anggotanya yang menyebabkan mereka tak mau lagi mendengarkan Mursyid ‘Am. Meski demikian, Syaikh al-Qaradhawi sama sekali tidak mempertanyakan keikhlasan mereka.

Syaikh al-Qaradhawi juga menggarisbawahi sikap sebagian Ikhwan yang disebutnya sebagai “tindakan kasar dalam menghukumi sesama Ikhwan yang berbeda dengan mereka”. Tindakan yang dimaksud adalah tuduhan pengkhianatan kepada Syaikh Abdul Aziz Kamil dan Syaikh Muhammad al-Ghazali, hanya karena mereka berbeda pendapat dengan Al-Ikhwan. Keduanya adalah tokoh yang sangat dihormati – bahkan dianggap sebagai guru – oleh Syaikh al-Qaradhawi. Syaikh Abdul Aziz Kamil adalah tokoh Al-Ikhwan yang sangat terkemuka, bahkan sempat dicalonkan sebagai Mursyid ‘Am kedua. Namun beliau memilih untuk bekerja sama dengan pemerintah dengan menerima jabatan sebagai Menteri. 
 
Menurut Syaikh al-Qaradhawi, itulah jalan yang telah dipilihnya, dan tak pernah ada indikasi bahwa beliau telah mengkhianati Al-Ikhwan, apalagi Islam. Demikian pula Syaikh al-Ghazali, yang seringkali dianggap sebagai tokoh kontroversial. Meski ‘berbeda jalan’ dengan Al-Ikhwan, namun Syaikh al-Qaradhawi tak menganggap perbedaan pendapat itu sebagai alasan untuk melupakan begitu saja jasa-jasa Syaikh al-Ghazali dalam dakwah. Sebaliknya, Syaikh al-Qaradhawi justru mengajukan sebuah perspektif unik dalam memandang masalah ini. Menurutnya, apa yang terjadi antara Syaikh al-Ghazali dengan jamaah Al-Ikhwan justru memiliki hikmah mendalam. Ketika Gamal Abdul Nashir menangkap dan menyiksa kader-kader dakwah di penjara-penjaranya, Syaikh al-Ghazali justru selamat dari tuduhan, sehingga beliau bebas mendakwahkan Islam di luar penjara. Dengan demikian, selalu ada saja yang melaksanakan tugas-tugas dakwah.

Mereka yang sering membaca buku yang menceritakan keutamaan Imam Hasan al-Banna barangkali perlu ‘mengimbanginya’ dengan membaca buku ini, sehingga dapat melihat sendiri bahwa Imam al-Banna sekalipun mengalami kesulitan besar dalam mengelola jamaahnya yang telah tumbuh besar. Buku ini juga baik untuk dibaca oleh mereka yang membayangkan bahwa jalan dakwah itu lurus, dan tak berliku-liku. Buku ini menyadarkan kita akan berbagai bahaya yang mengancam dakwah, mulai dari pembangkangan terhadap syura’, idealisme yang tidak mempertimbangkan kondisi, dan tingginya wawasan yang tak menjamin kepiawaian dalam menjaga ukhuwwah dalam situasi terjadinya perbedaan pendapat.

Semoga Allah merahmati Syaikh Yusuf al-Qaradhawi atas karyanya ini. Sebagaimana petuah dari Syaikh Musthafa Masyhur, jalan dakwah akan senantiasa berliku, berduri, bahkan penuh dengan jebakan. Inilah tabiat dakwah yang tak mungkin diubah. Akan tetapi, kita bisa mengubah perspektif kita dalam menyikapi fenomena tersebut. Perspektif yang ditawarkan oleh Syaikh al-Qaradhawi dalam buku ini terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.


Catatan : Buku ini diterbitkan di Indonesia oleh AULIA Publisher dalam dua jilid dan Tarbawi Press dalam satu jilid.

Senin, 16 Mei 2011

( Tidak selalu ) Salah Demokrasi

assalaamu’alaikum wr. wb.


Seseorang membagi-bagikan sebuah komik ringkas menarik dengan penuh semangat.  Katanya, komik tersebut akan menjelaskan dengan sangat sederhana mengapa demokrasi telah merusak kehidupan kita dan niscaya akan membawa kita pada kehancuran.  Sebuah kata-kata yang sangat kuat yang tidak mungkin bersumber selain dari keyakinan penuh.  Tapi marilah kita simak ceritanya.


Alkisah, ada suatu percabangan rel kereta api.  Cabang yang pertama adalah yang sudah lama tak digunakan lagi, sehingga tak ada kereta yang melewati jalur itu.  Cabang kedua adalah jalur yang kini sering digunakan.  Sudah barang tentu, jalur pertama adalah tempat yang aman bagi siapa pun, sedangkan jalur kedua harus dijaga baik-baik agar tidak ada jatuh korban.


Di dekat percabangan itu, ada dua kelompok anak yang sedang bermain dengan asyiknya.  Kelompok pertama, yang hanya terdiri dari dua orang anak, bermain di jalur pertama, karena mereka memang tahu bahwa jalur tersebut aman untuk siapa pun.  Kelompok kedua yang terdiri dari enam orang anak justru asyik bermain di jalur kedua.  Dua anak di jalur pertama sudah memperingatkan kepada keenam temannya bahwa jalur itu berbahaya, tapi tidak mereka malah mengabaikan peringatan itu.


Tibalah waktunya kereta datang melintas.  Anak-anak itu tidak menyadari kedatangan kereta, demikian juga sang masinis baru mengetahui keberadaan anak-anak itu setelah jaraknya terlalu dekat untuk melakukan pengereman.  Karena terkejut, insting sang masinis langsung mengambil alih kerja tubuhnya.  Ia ‘banting stir’ sehingga kereta berbelok ke jalur yang biasanya tak dipakai.


Akhir cerita tidak pernah dibahas dalam komik tersebut, mungkin karena terlalu menyedihkan.  Bisa dibayangkan, kedua anak yang seharusnya aman bermain di jalur yang tak pernah lagi dilalui kereta kemudian menjadi korban mengenaskan karena insting sang masinis yang memindahkan kereta ke jalur yang lebih sepi demi mengurangi jumlah korban yang mungkin jatuh.  Namun meski akhir cerita tak pernah tuntas diuraikan, ibrah pun ditarik: demokrasi, yang senantiasa mementingkan mayoritas, telah mengakibatkan jatuhnya korban tak bersalah.


Hanya karena anak-anak yang bermain di jalur kedua lebih banyak, sang masinis memilih untuk menggilas tanpa ampun dua anak di jalur pertama.  Padahal, yang benar adalah yang di jalur pertama itu, karena mereka bermain di jalur yang tak terpakai lagi.  Adapun keenam temannya itulah yang bersalah, karena bermain-main di jalur yang masih digunakan.  Kisahnya semakin ironis jika kita ingat bahwa kedua anak di jalur pertama sebelumnya telah memperingatkan teman-temannya di jalur kedua tentang bahaya bermain di sana, namun pada akhirnya justru merekalah yang (mungkin) menjadi korban.  Dengan analogi tersebut, ditariklah kesimpulan bahwa mementingkan pendapat mayoritas seringkali tidak membawa keselamatan, karena yang banyak belum tentu benar.  Dalam iklim demokrasi, yang minoritas selalu ditindas, meskipun dalam banyak hal justru yang minoritas itulah yang benar.  Beginilah akibatnya jika pengambilan keputusan tidak didahului dengan pembedaan antara yang benar dan yang salah, yang haq dan yang bathil, yang berdalil dan yang ngira-ngira, yang fakta dan yang mengarang bebas, dan seterusnya.  Dalam demokrasi, mayoritas harus menang.  Sebodoh apa pun mayoritas itu.


Baiklah, kita kesampingkan dahulu perdebatan apakah memang seorang masinis bisa membelokkan keretanya begitu saja tanpa bantuan pergeseran bagian apa pun dari rel tersebut.  Anggaplah hal itu memang dimungkinkan.


Tinggalkanlah demokrasi yang memang dibenci setengah mati itu, dan mari bertanya sejenak pada alternatif yang hendak diajukan sebagai lawan dari demokrasi itu.  Sebutlah ia syari’at Islam.  Anggaplah Anda menjadi sang masinis, dan asumsikanlah bahwa Anda bisa membelokkannya di percabangan jalur tersebut.  Bagaimanakah Anda harus menyikapi masalah di depan mata Anda, dari kaca mata syari’at Islam?


Dari sekian banyak orang yang menerima pertanyaan seperti ini, ternyata jawabannya hanya dua: diam seribu bahasa, atau memilih untuk banting stir, sebagaimana masinis dalam komik tersebut.  Mereka yang memilih untuk banting stir pun ternyata menggunakan alasan yang sama persis seperti dalam cerita, yaitu karena ingin menghindari korban yang lebih banyak.  Ada pula yang menambahkan suatu pertimbangan, yaitu bahwa jika kereta dibelokkan ke jalur pertama, diharapkan kedua anak di jalur itu sempat melompat ke sisi-sisi rel agar selamat.  Adapun di jalur kedua, karena jumlah anaknya lebih banyak, maka lebih sulit bagi mereka untuk menghindar.  Bayangkan saja enam orang anak lompat bersamaan tanpa diatur mesti loncat ke arah mana.  Jalur pertama memberikan kemungkinan yang lebih baik daripada jalur kedua, baik dari ‘kaca mata demokrasi’ atau ‘kacamata syari’at’.  Di sisi lain, ada yang malah melontarkan celaan kepada sang pembuat cerita, karena menurutnya cerita itu sama sekali tidak simpatik.  Dengan mengambil contoh anak-anak, apakah sang penulis cerita hendak mengatakan bahwa enam orang anak yang bermain di jalur yang masih aktif tersebut pantas untuk mati terbunuh?  Kalau kita tarik pada kasus-kasus lain, boleh pula kita mempertanyakan, pantaskah kita mengatakan bahwa anak-anak yang kabur dari rumah itu pantas dibiarkan hidup menggelandang, karena salah mereka sendiri?  Pantaskah kita mengatakan bahwa anak-anak yang terlibat tawuran itu pantasnya mati saja, karena salah mereka sendiri?  Adapun dari pihak yang hanya diam seribu bahasa tadi, maka diamnya itu adalah jawabannya.


Kita tidak perlu memperpanjang perdebatan tentang demokrasi ini, namun perlu memperhatikan sebuah gejala yang merebak di antara sebagian saudara kita, yaitu sikap ‘mudah menyalahkan demokrasi’.  Setiap masalah muncul, yang bersalah selalu demokrasi.  Jika ada yang tak beres di negara ini, yang salah adalah demokrasi.  Jika pegawai kelurahan lambat, itu karena demokrasi.  Jika urusan memperpanjang KTP jadi ribet, itu salah demokrasi.  Jika kemiskinan merebak, itu salah demokrasi.  Jika ada yang korupsi, itu karena demokrasi.  Jika syari’at Islam ditolak melulu, itu salah demokrasi.  Jika sampah dibuang tidak pada tempatnya, jangan-jangan juga karena demokrasi.


Seperti analogi kereta tadi, banyak yang menolak demokrasi namun gagal mengajukan alternatif yang lebih baik darinya.  Parahnya lagi, kegagalan dirinya hendak ditutupi atau dilimpahkan kepada demokrasi.  Ini adalah gejala yang sangat memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa tradisi ilmiah umat Islam telah begitu terpuruknya sehingga yang dicari hanya pelarian dan kambing hitam.


Dalam hal ini, perlu kita mendengarkan argumen yang diajukan oleh ust. Adian Husaini.  Menurut beliau, tanpa perlu membenarkan seluruh konsep demokrasi yang dianut oleh masyarakat Barat, pada kenyataannya tidak semua keterpurukan umat Islam terjadi karena demokrasi.  Justru keterpurukan itu diawali pada masa-masa di mana belum ada demokrasi di negeri-negeri Islam.  Jika kita ingin menganalisis keterpurukan kita pada masa kini, maka kita seharusnya juga menelitinya secara makro sebelum menarik kesimpulan besar bahwa sumber permasalahannya adalah demokrasi.


Dalam iklim demokrasi saat ini, umat Islam nyaris tidak dilarang untuk melakukan apa pun.  Mau mendirikan bank syariah diperbolehkan, jual-beli dinar dan dirham pun silakan.  Mau bikin TK Islam, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam, pesantren, madrasah, atau perguruan tinggi Islam pun tidak dilarang.  Pakai jilbab tidak dilarang (walaupun ada saja oknum-oknum dan instansi-instansi ‘nakal’ yang melarangnya), pakai sorban dan jubah pun tidak dilarang.  Mau shalat tidak sulit, karena di mana-mana ada Masjid dan Mushola.  Mau tilawah di rumah, di masjid, di kereta pun tak masalah.  Mau membuat majalah, surat kabar, stasiun radio, stasiun televisi, lembaga amil zakat, ormas, parpol, tidak ada yang melarang.


Dengan kesempatan yang terbuka lebar seperti itu, apa masalah yang kita hadapi dalam dakwah?  Ternyata masalahnya ada dalam diri kita sendiri.  Kita boleh membuat rumah sakit Islam, tapi salah siapa kalau rumah sakit Islam kalah lengkap peralatannya dan kalah bagus pelayanannya dibanding rumah sakit Kristen?  Kita bisa mendirikan sekolah-sekolah Islam, tapi salah siapa kalau sekolah-sekolah itu kalah bersaing dengan sekolah-sekolah negeri?  Kita boleh membuat majalah dan surat kabar, tapi bagaimana kalau oplahnya jauh di bawah media-media massa sekuler?  Umat Islam sudah punya stasiun-stasiun radio dan boleh mengusahakan stasiun televisi, tapi siapa yang salah kalau pengelolaannya kurang profesional?  Orang boleh mengutuk sejuta topan badai karena film bermuatan pluralisme terus-menerus bermunculan, padahal umat Islam punya kesempatan seluas-luasnya untuk membuat film bermuatan Islam.


Janganlah memelihara mentalitas orang kalah yang hanya bisa menyalahkan keadaan tanpa pernah menaklukkan keadaan.  Masih banyak yang perlu dibenahi di tubuh umat Islam, tanpa harus buru-buru menyalahkan sistem.  Bolehlah berkhayal bahwa pemerintahan sekuler akan ambruk tanpa sebab yang jelas, kemudian hak memerintah diberikan kepada umat Islam, dengan para da’i sebagai kekuatan utamanya.  Apakah umat Islam – khususnya para da’i – sudah mengerti cara mengelola sistem perbankan di seluruh negeri, atau membangun kurikulum yang sesuai untuk sekolah-sekolah di seluruh pelosok Indonesia, atau membuat sebuah sistem jaminan sosial untuk seluruh anak negeri, atau mendistribusikan pelayanan kesehatan secara merata, dan setumpuk permasalahan lainnya?  Apakah kita sudah mampu menjawab tantangan-tantangan 'mikro' tersebut?


wassalaamu’alaikum wr. wb.
*) sumber http://akmal.multiply.com/

Minggu, 15 Mei 2011

Jill: Menjadi Muslim adalah Hal Terindah dalam Perjalanan Hidup Saya

REPUBLIKA.CO.ID, Ia meminta dipanggil Jill saja. Menganut Islam beberapa tahun lalu, dia kini mantap menjadi Muslimah. "Insya Allah, Islam akan saya bawa sampai maut menjemput," ujarnya. Berikut kisahnya tentang pilihannya pada Islam:

"Saat remaja, saya bekerja sampingan di sebuah restoran milik orang Palestina. Ya, pemilik itu seorang Muslim. Ini kali pertama saya bersinggungan dengan Muslim. Dia shaleh. Dia memperlakukan karyawan dengan "hati". Dia menyambut siapa saja dengan ramah, bersalamaan. Dia sangat berbeda dengan Muslim yang saya kenal.

Masuk kuliah, saya memutuskan memilih jurusan sejarah timur tengah. Di sini, saya mengenal lebih jauhtentang Islam dari perspektif sejarah. Siapa penyebar ajaran Islam, bagaimana dia, apa isi ajarannya, dan seterusnya. Hati saya makin tertawan pada Islam. Namun saat itu belum memutuskan menganut Islam.

Pada perjalanannya kemudian, saya berkenalan dengan seorang pemuda yang mengenalkan saya pada sufisme Islam. Dari pemuda yang di kemudian hari menjadi suami saya ini, saya menyimpulkan satu hal tentang Islam: agama yang logis dan knowledgeble. Satu kata yang selalu saya ingat: "Jill, islam adalah agama yang logis. Dia bukan hanya agama, tapi jalan keluar untuk hidup."

 Dan saya membuktikannya. Setiap kali ada masalah, Islam membimbing saya untuk tenang dan keluar dari masalah itu. Ajaran Islam juga bisa diterima akal. Bahkan, misalnya, untuk hal remeh kenapa wanita harus mengenakan jilbabpun, ada alasan logis yang bisa diterima akal.

Saya memutuskan berislam tidak dengan cara membabi buta. Saya mempelajarinya lebih dulu. Saya orangnya sangat berhati-hati. Betul, calon suami yang mengenalkan saya lebih jauh pada Islam, tapi pendapatnya bukan harga mati bagi saya. Saya tetap mengikuti kelas pendidikan Islam, bertanya pada teman-teman yang lain, dan seterusnya. Intinya, saya terus belajar.

Menganut Islam adalah hal terindah dalam perjalanan hidup saya. Insya Allah, saya akan membawanya hingga maut menjemput. Berislam, bukan sekadar mengucap syahadat, selesai. Insya Allah, saya akan terus belajar tentang Islam, meningkatkan dan terus menjaga keimanan saya. Insya Allah, semoga Allah selalu membimbing saya."
 
*) sumber republika.co.id

Anis : PKS siap lepas landas pemilu 2014

Metrotvnews.com, Banjarmasin: Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) Anis Matta menyatakan, partainya siap lepas landas merebut tiga besar pada Pemilihan Umum 2014. Ia menyatakan itu, usai memberi pengarahan dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) PKS Kalimantan Selatan (Kalsel) di Banjarmasin atau sebelum kembali ke Jakarta, Ahad (15/5) sore.

Anis yang juga Wakil Ketua DPR-RI itu tampaknya optimistis PKS bisa mencapai tiga besar dalam perpolitikan di Indonesia, terutama penempatkan kader-kader partai politik (Parpol) tersebut di perlemen tingkat pusat.

Pasalnya, secara struktural parpol yang berlambangkan tanda gambar dua bulan sabit mengapit satu tangkai/bulir padi itu, sudah tak masalah lagi, lanjutnya didampingi Habib Aboe Bakar Al Habsyie, anggota DPR-RI dari PKS asal daerah pemilihan (dapil) Kalsel.

Guna mencapai target tiga besar nasional atau meraih suara pemilih sebanyak mungkin, kini PKS mengembangan tiga program utama, yaitu pelayanan, pemberdayaan dan pendidikan.

Mengenai pelayanan PKS, dia menyatakan, masyarakat umum atau publik sudah banyak mengetahui, dan untuk pemberdayaan menargetkan sasaran sebanyak satu juta usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Sedangkan program pendidikan, antara lain berupaya mewujudkan ketahanan nasional generasi muda, lanjutnya yang juga didampingi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Kalsel, Ibnu Sina.

Pada Tahun 2011 merupakan awal pengembangan PKS untuk mencapai target tiga besar tersebut dalam strata politik nasional Indonesia pasca Pemilu 2014.

Mengenai adanya gugatan terhadap PKS, dia menyatakan, hal itu tak akan mempengaruhi terhadap upaya pencapaian target tiga besar nasional, bahkan bisa lebih memperkuat.

"Karena dalam PKS tak ada individu yang lebih kuat dari pada sistem, tapi sebaliknya sistem bisa membuat individu tersebut menjadi terpuruk," demikian Anis Matta.

Sementara itu, Ketua DPW PKS Kalsel, Ibnu Sina juga menyatakan, pihaknya bertekad meningkatkan peringkat dari hasil Pemilu 2014, dari posisi ketiga menjadi dua atau satu dalam perolehan kedudukan di DPRD tingkat provinsi tersebut.

"Kami tak ingin sekedar tiga besar seperti sekarang. Tapi kami mau berada di urutan dua atau satu," tandas anggota DPRD Kalsel dua periode dari PKS tersebut.

"Untuk pencapaian target tersebut, PKS Kalsel kini sudah memiliki 210.000 kader dan tinggal pemantapan serta pengembangan," demikian Ibnu Sina.

Perkembangan PKS dari Pemilu ke Pemilu dalam perolehan kursi di DPRD Kalsel, pada Tahun 1999 cuma berhasil menempatkan satu kader (ketika itu masih nama Partai Keadilan/PK), kemudian 2004 meningkat menjadi enam dan 2009 jadi tujuh orang.

Perolehan kursi di DPRD Kalsel pada Pemilu 2009 dari 55 keanggotaan, terbanyak Partai Golkar sepuluh, Partai Demokrat semobilan, serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan PKS masing-masing tujung orang.

*)sumber: metrotvnews.com

Menkominfo Terima Penghargaan Anti Pembajakan

Islamedia - Menkominfo Tifatul Sembiring dinilai sukses melakukan kampanye anti pembajakan TV Kabel Berbayar di Indonesia. Atas usaha dan dedikasinya, Tifatul mendapat penghargaan dari pemilik program TV Kabel Berbayar seluruh dunia.
 
“Bapak menteri menerima award dalam rangka menegakkan hukum dalam bidang pembajakan TV Kabel Berbayar,” kata Presiden Direktur PT MNC Sky Vision (Indovision) Rudy Hary Tanoesudibyo dalam jumpa pers The Asia Pasific Pay TV Operators Summit 2011, di Ayana Luxury Resort and Spa, Jimbaran, Bali, Jumat (13/5/2011).

Rudy menjelaskan, selama 2 tahun ini, Menkominfo berhasil menekan jumlah pembajak TV Kabel Berbayar. Dalam 2 tahun, pemerintah telah melakukan upaya pendekatan agar para penyedia TV Kabel Berbayar ilegal menutup usahanya.

“Kita sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Pak Menteri dalam hal penegakkan hukum. Bahkan penegakkan tidak dilakukan sewenang-wenang,” terangnya.

Seperti diketahui, jumlah pelanggan TV Kabel Berbayar di Indonesia mencapai 1,2 juta. Sementara jumlah pelanggan ilegal menembus angka 2 juta.

Sementara dalam acara penyerahan penghargaan, Tifatul mengucapkan terima kasih dan dukungannya. Politikus PKS ini mengajak semua pihak untuk terus melawan pembajakan.

“Ada bajak darat dan laut. Kalau ini bisa dibilang bajak udara. Kita harus aware kalau berbisnis tidak boleh mencuri. Membajak itu mencuri dan mematikan kreatifitas,” kata Tifatul dalam Closing Ceremony The Asia Pasific Pay TV Operators Summit 2011 Jumat malam.

Tifatul yang malam itu mengenakan batik biru mengaku sangat mengapresiasi penghargaan tersebut. “Penegakkan hukum dalam konteks anti pembajakan merangsang suatu kreatifitas yang positif,” jelasnya.

Hadir sekitar 500 undangan dari seluruh dunia seperti seluruh Asia, USA, India, Hong Kong dan Eropa termasuk perwakilan grup media seperti Fox, HBO, BBC, Disney, MGM, dan lain-lain.

Tifatul Sembiring: KAA dan UUD ’45 Menolak Keberadaan Israel

dakwatuna.com  
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring, menghimbau agar perayaan hari Israel di Jakarta hari ini tidak dilakukan karena sikap anti-Israel di Indonesia cukup tinggi.

“Saya pribadi, tidak usah lah ya. Saya khawatir akan jadi keributan, dan ini bisa jadi ajang provokasi, sesuatu yang tidak bermanfaat, krn sentimen sikap anti Israel di Indonesia itu kan cukup tinggi,” ungkapnya usai memberi kuliah umum mahasiswa ilmu komunikasi di Universitas Dwijendra, Denpasar, Sabtu.

Sikap anti-Israel tersebut dijelaskan Tifatul bahwa terkait kebijakan-kebijakan Israel terhadap negara-negara Timur Tengah, khususnya Palestina.

“Indonesia sesuai dengan semangat Konferensi Asia Afrika dan UUD ’45 itu kan menolak keberadaan Israel yang tidak memberikan hak kebebasan kepada Palestina, jadi perlu diketahui, status Israel di Palestina itu kan penjajah, karena mereka datang-datang di situ bikin negara, dan wilayah itu milik palestina,” katanya.

Selain itu, Tifatul juga mengkhawatirkan adanya pihak-pihak yang mengadakan perayaan itu secara terbuka akan terjadi keributan.

“Nah tanpa ada babibu, saya khawatir kalai ada pihak-pihak yang mengadakan perayaan itu secara terbuka, akan ada kelompok-kelompok yang tidak senang. Nah kita ini kan bebas, tapi kita ciptakanlah kerukunan kalau ada kelompok begitu saya yakin ada keributan,” ujar Tifatul.

Sebelumnya, perayaan hari kemerdekaan Israel yang jatuh pada 14 Mei itu rencananya akan diadakan di Indonesia, namun kabar terakhir bahwa perayaan tersebut ditunda karena Ketua Panitia Perayaan Hari Kemerdekaan Israel, Unggun Dahana belum mengantongi izin dari kepolisian.

Polri yang menerima surat permohonan untuk perayaan tersebut pun menolak dan tidak memberikan izin karena selain dalam surat permohonan itu belum lengkap, namun juga tidak sesuai dengan prosedur Petunjuk Laporan (Juklap) 02/1995 mengenai penjelasan Kementrian Luar Negeri bahwa Pemerintah RI tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Anis Matta: NII Alat Politik Belaka

dakwatuna.com – Banjarmasin.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera, Anis Matta menduga Negara Islam Indonesia (NII) adalah alat politik belaka.

Usai memberi pengarahan dalam Musyawarah Kerja Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kalimantan selatan di Banjarmasin, Wakil Ketua DPR-RI itu tak menyebut pihak mana yang menjadikan isu NII sebagai alat politik, kecuali menyatakan hal tersebut hanya akan memperburuk pemerintah sendiri.

Dia menyebut NII yang dinilainya berlangsung selama beberapa kali ganti Presiden, cenderung sebagai alat untuk memojokan Islam.

“Sebagai contoh selama ini isu teroris atau terorisme, bukan cuma sekedar isu, tapi untuk melemahkan perjuangan kaum muslim yang mungkin sengaja sebagai skenario pihak tertentu,” tandasnya.

Dia melihat tetap tumbuh dan berkembangnya isu NII hanya menunjukkan penegakan hukum di Indonesia tak jalan.

Oleh sebab itu demi menjaga kewibawaan pemerintah, sarannya, jangan biarkan isu NII terus tumbuh dan berkembang.

Cabut Status WNI Penyelenggara Peringatan Kemerdekaan Israel

dakwatuna.com 
Politisi senior PKS, Hidayat Nur Wahid mendesak pemerintah mencabut kewarganegaraan WNI yang menggelar acara peringatan Kemerdekaan Israel.

“Apabila orang–orang tersebut berkeras untuk memperingati hari ulang tahun Israel maka lepas saja status WNI yang mereka miliki.” Hidayat mengatakan apapun alasan yang digunakan sebagai alasan untuk memperingati kemerdekaan Israel bukan untuk kemashlahatan masyarakat Indonesia. Sehingga perayaan hari ulangtahun tersebut menjadi tidak ada gunanya.

Lebih lanjut Hidayat mengatakan, “Secara prinsip perayaan HUT Israel tidak sesuai dengan konstitusi negara kita. Negara kita tidak menjalin hubungan diplomasi dengan Israel yang notabene negara penjajah.”

Hidayat juga mengatakan agak aneh bila ada warga negara Indonesia yang memperingati hari kemerdekaan Israel. “Seharusnya jika dia adalah seorang WNI yang baik tentunya dia tahu tidak boleh bertindak dan melakukan sesuatu di luar konstitusi yang berlaku di negaranya.

”Sehingga apabila ada WNI memperingati kemerdekaan Israel maka dia bertindak yang bukan untukl kemashlahatan negaranya. “Yang memperingati kemerdekaan suatu negara harusnya orang yang berkebangsaan sama atau perwakilan suatu negara.”

Menurut Hidayat tidak ada dampak negatif yang timbul apabila Indonesia melarang perayaan hari ulang tahun Israel. Justru dampak sebaliknya akan timbul apabila pemerintah tidak tegas terhadap orang – orang yang berniat merayakan hari ulangtahun Israel tersebut.

“Kalau pemerintah mengizinkan adanya perayaan tersebut justru akan terjadi polarisasi antara masyarakat yang pro dan kontra terhadap Israel. Padahal kita tahu Israel itu negara penjajah dan tidak sesuai dengan konstitusi kita. Kalau sekarang ini pemerintah memberikan toleransi maka akan ada alasan untuk membiarkan hal – hal lain yang dilarang untuk masuk seperti perkawinan sesam ajenis.”

Sedangkan bila pemerintah bertindak tegas untuk melarang sepenuhnya dengan alasan apapun pelaksanaan hari ulang tahun Israel, Hidayat mengatakan, hal tersebut justru akan menimbulkan apresiasi. “Selain menimbulkan apresiasi pelarangan perayaan HUT Israel akan menutup polemik ke depan mengenai kemungkinan membuka hubungan diplomatic dengan Israel.”

Sedangkan mengenai tindakan yang harus diambil terhadap pemrakasa perayaan HUT Israel Hidayat mengatakan, “Tidak perlu diberi sanksi atau tindakan yang tegas karena sanksi sosial dari masyarakat yang sudah tidak setuju terhadap Israel sudah cukup. Mungkin di sini lebih ditegaskan kepada pemerintah yang harus mengambil tindakan tegas terhadap pelarangan tindakan tersebut.

Dakwah Mengajak Bukan Mengejek

"Inspirasi dari Tanah Suci"
Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
---

Waktu masih kuliah di Riyadh, Arab Saudi, saya dapat cukup banyak kesempatan untuk melaksanakan umrah ke Makkah al-Mukarramah. Selain melaksanakan thawaf, yang paling menyenangkan dan menimbulkan kesan yang mendalam adalah menyaksikan orang lain melaksanakan thawaf, laki-laki dan perempuan, tiada putus-putusnya. Lebih berkesan lagi, apabila kita menyaksikannya dari lantai dua Masjid Haram.


Pada suatu kesempatan setelah shalat Isya, saya dan seorang sahabat duduk-duduk di pelataran Ka'bah, menikmati udara malam sambil menyaksikan kaum Muslim Muslimah thawaf tiada henti-hentinya. Bersama kami, ada sepasang suami istri setengah baya yang datang melaksanakan umrah sejak beberapa hari lalu. Kami sudah saling kenal, karena beliau berdua sudah berulang kali ke Makkah, baik untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah. Allah menganugerahkan kekayaan yang melimpah kepada mereka berdua, tetapi sayang mereka tidak dianugerahi putra seorang pun. Barangkali ke Makkah merupakan salah satu cara mereka menghibur diri apabila dilanda kesepian dan kerinduan terhadap anak.


Tiba-tiba, si ibu menyatakan tekadnya: "Sampai ajal datang, kami berdua akan melaksanakan haji dan umrah sebanyak mungkin." "Inilah yang dapat kami lakukan untuk menambah bekal ke akhirat kelak," lanjutnya. Sahabat saya, kebetulan lebih senior, menanggapinya dengan bijaksana. Tidak mencela dan tidak pula menyalahkannya. "Bagus, semoga Bapak dan Ibu mendapatkan haji yang mabrur dan umrah yang makbulah." Saya lihat suami istri itu tersenyum lega. Tetapi, lanjut sahabat saya, "Jika Bapak Ibu sudah meninggal dunia, tidak akan bisa haji dan umrah lagi. Sehingga, pahalanya terhenti." Tanpa memperhatikan reaksi suami istri itu, sahabat saya meneruskan lagi. "Jika Bapak Ibu mau, saya bisa tunjukkan amalan yang pahalanya akan terus mengalir tiada henti." Si ibu cepat menjawab, "Amalan apa, Dik?" "Mendirikan masjid, misalnya." Sekalipun nanti ibu dan bapak sudah berada di alam barzah, pahalanya akan terus mengalir."


Beberapa bulan kemudian, kami dapat kabar bahwa suami istri tadi mulai mendirikan sebuah masjid yang cukup besar dan diberinya nama Masjid Ar-Raudhah. Barangkali untuk mengenang tempat shalat yang selalu diperebutkan jamaah di Masjid Nabawi. Semenjak itu, bapak ibu tadi mulai sibuk mengurus masjidnya, mendirikan yayasan pengelola masjid. Perkembangan selanjutnya sungguh menggembirakan, mereka berdua juga mendirikan taman kanak-kanak yang juga dinamai Ar-Raudhah. Bahkan kemudian mendirikan gedung sekolah berlantai dua yang diwakafkan untuk sebuah pesantren.


Masya Allah. Saya dapat pelajaran berharga dari sahabat saya itu. Saya sempat berandai-andai, sekiranya sahabat saya mencela suami istri itu, niscaya keduanya mungkin akan membantah dengan jawaban yang juga keras. "Orang beribadah kok dilarang." Karena itu, ini tantangan bagi semua umat Islam, terlebih para dai, bahwa sesungguhnya dakwah adalah mengajak, bukan mengejek.


*)sumber: koran Republika

Jika Telur Pecah

Oleh: Ust. Musyaffa Abdurrahim, Lc.
Bidang Pembinaan Kader DPP-PKS
---

Jika telur pecah karena faktor eksternal
Berarti kehidupannya berakhir
Jika telur pecah karena faktor internal
Berarti ada kehidupan baru dimulai


"SESUATU YANG AGUNG SELALU DIMULAI DARI DALAM"

DR. Salman Audah, seorang ulama' dan pemikir dari Saudi Arabia berkata:
Kita wajib percaya bahwa kita diciptakan bukan:
Untuk gagal
Untuk bersedih, atau
Untuk menjadi manusia-manusia tanpa tujuan


Kita wajib percaya bahwa keberadaan kita bukanlah kebetulan
Bukan pula sekedar suatu angka
Keberadaan kita adalah karena adanya suatu keperluan
"SAYA ADA KARENA ALAM SEMESTA MEMERLUKAN SAYA"
Ambillah ibrah dari harimu
Jadikan kemaren sebagai pengalaman

Dunia adalah persoalan matematik
Bubuhkan tanda - capek dan sengsara
Bubuhkan tanda + cinta dan kesetiaan
Niscaya Tuhan pemilik langit akan menolong dan memberikan taufiq kepadamu

Jika engkau sujud, sampaikan kepada-Nya seluruh rahasiamu
Jangan dengarkan orang-orang di sekelilingmu
Bisiki Dia dengan air matamu
Dan hatimu adalah kekayaanmu
Dan Dia melihat kepadanya

Jangan berkata: dari mana aku mulai
Ketaatan kepada-Nya adalah titik awal

Jangan berkata: mana jalanku
Syari'at Allah adalah penunjuk jalan

Jangan berkata: di mana kenikmatanku
Cukulah syurga Allah sebagai jawabannya

Jangan berkata: besok aku akan memulai
Bisa jadi itulah akhir perjalananmu

Dunia itu tiga hari:
Sehari telah kita lalui dan tidak akan kembali
Hari ini yang tidak akan abadi, dan
Besok, yang kita tidak tahu akan bersama siapa? Dan di mana?

Saat seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepadamu
Jangan marah..senyumlah..sebab ia telah mengungkapkan jati dirinya, sehingga engkau tidak perlu capek menggalinya

Dan biasakan lidahmu untuk mengucapkan:
Allahummaghfirli (ya Allah, ampuni daku)
Sebab ada saat-saat tertentu Allah SWT tidak menolak permohonan siapa pun.

Mau Dirikan Khilafah ? mulai dari sekarang ....

Oleh : Ust. Sarwat, Lc
Salah satu yang membuat kita berdecak kagum kepada sejarah umat Islam dalam masa-masa khilafah Islamiyah adalah persembahan yang diberikan tiap khilafah itu kepada umat manusia. Salah satu persembahan yang utama adalah jaminan pendidikan dan kesehatan buat semua orang, bukan hanya umat Islam, tetapi semua pemeluk agama.

Perguruan Tinggi di dunia Islam sejak dulu tidak pernah memungut bayaran dari para mahasiswanya. Sebaliknya, semua mahasiswa malah mendapatkan gaji dan tunjangan dari kampusnya. Baik kampus itu milik negara atau pun milik swasta.

Maka tidak heran kalau dunia pendidikan saat itu sangat maju dan berkualitas. Sebab semua orang yang ingin belajar, mendapatkan bantuan dari semua pihak. Bukan saja dari negara, tapi dari semua elemen masyarakat.

Dan gratisnya pendidikan adalah ciri sebuah khilafah Islamiyah. Kalau hari ini ada keinginan untuk mengembalikan lagi khilafah, rasanya sangat tepat kalau ciri-ciri itu kita mulai lebih dahulu. Agar orang tahu, bahwa mendirikan khilafah itu memang ada manfaatnya yang langsung bisa dirasakan, bukan saja oleh umat Islam, tetapi juga orang pemeluk agama lain.

Sayangnya, nyaris semua kampanye untuk kembali kepada khilafah saat ini, berhenti hanya sebagai slogan kosong tanpa makna. Kalau cuma bicara doang, semua orang juga bisa. Tapi yang dibutuhkan adalah bukti nyata, amal, kerja, prestasi, hasil, manfaat yang real. Bukan hanya janji-janji kosong bak calon anggota legislatif. kalau nanti saya terpilih, saya akan begini dan begitu. Kalau nanti khilafah sudah bediri, nanti kita akan begini dan begitu. Kalau ada khilafah nanti kita akan makmur.

Itu terbalik. Ciptakan dulu kemakmuran, setidaknya di kalangan yang terbatas, sehingga semua orang tahu dan melihat langsung buktinya. Baru nanti semua orang akan melirik dan melihat langsung. Kemudian orang akan mengambil kesimpulan. Ooo, mereka itu makmur karena mereka menerapkan syariat Islam, yang kalau semakin besar, akan menjadi khilafah.

Saudara-saudara saya yang sangat getol mengkampanyekan tegaknya khilafah itu rupanya bingung harus mulai dari mana perjuangan mereka itu. Persis orang yang bingung, mana duluan, telur atau ayam.

Padahal contoh dari Nabi SAW itu jelas sekali. Tidaklah Madinah itu didirikan, kecuali kalau sudah ada muhajirin dan anshar. Artinya, tidak mungkin khilafah Islam itu berdiri, kalau tidak ada umatnya.

Loh, 1,5 milyar ini apa bukan umat?

Benar, mereka itu umat. Tapi umat yang tidak berhak memiliki khilafah. Karena mereka umumnya tidak kenal agama Islam yang dipeluknya sejak lahir. Yang mereka kenal sekedar ritual-ritual tanpa makna. Karena faktor keturunan saja mereka sekarang secara formal beragama Islam.

Benar, mereka itu umat. Tapi mereka tidak bersatu seperti 15 juta orang yahudi di seluruh dunia. Mereka lebih suka hidup berkelompok-kelompok sambil asyik saling mengejek dan menjelekkan satu sama lain, sembari membanggakan kelompok mereka sendiri. Setiap partai membanggakan apa yang mereka punya. Setiap jamaah merasa paling unggul dengan prestasinya. Setidak ormas merasa paling berjasa dengan karyanya. Setiap gerakan merasa paling populer dengan nama besarnya. Setiap murid merasa paling benar dengan fatwa ustadznya.

Benar, mereka umat. tapi mereka juga belum lagi menerapkan syariah dalam pribadi dan keluarga mereka. Bahkan mereka pun belum lagi mengerti detail-detail syariah. Karena mereka tidak pernah belajar ilmu syariah secara serius. Latar belakang pendidikan mereka tidak lain adalah ilmu-ilmu milik orang kafir yang sekuler. Ilmu-ilmu keislaman yang mereka punya sangat terbatas, dangkal, dan sebisa-bisanya saja. Tidak mengambil dari sumber ilmu itu sendiri secara matang dan serius.

Benar, mereka umat. Tapi apa yang mereka makan, tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka minum, juga tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka pakai, juga tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka dapatkan dari rejeki, juga tidak pasti halal haramnya.

Benar, mereka umat. Tapi mereka tidak tahu siapa yang jadi mahram dan siapa yang bukan. Mereka tidak tahu cara bagi waris yang diajarkan Rasulullah SAW. Mereka tidak tahu bahwa mengucapkan talak kepada istri walau cuma main-main ternyata jatuh juga. Mereka tidak tahu kalau wanita yang ditalak suaminya itu ada masa iddahnya dan tidak boleh keluar dari rumah suaminya.

Benar, mereka umat. Tapi mereka tidak tahu bahwa macet di jalanan kota Jakarta itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menjama` shalat. Dan bahwa menjama` shalat itu tidak boleh dilakukan setelah sampai di rumah, karena sudah bukan musafir lagi.

Dalam keadaan yang sangat awam dan parah dalam keawaman itu, rasanya masih mimpi kalau kita bicara tentang tegaknya khilafah islam. Sebab keawaman-keawaman seperti itu tidak pernah terjadi di masa tegaknya khilafah Islam selama 14 abad ini. Dan tidaklah khilafah Turki Utsmani runtuh di tahun 1924 yang lalu, kecuali karena umat ini semakin awam dan terlalu awam dengan syariah Islam.

Maka kalau kita bercita-cita ingin mengembalikan lagi khilafah Islamiyah seperti itu, langkah pertama yang harus ditempuh adalah kita wajib menghidupkan kembali ilmu-ilmu keislaman, sehingga seluruh lapisan umat yang 1,5 milyar ini MELEK syariah. Bukan cuma melek, tapi sampai paham, mengerti, nyambung, tahu, ngeh, dan ngelotok. Kemudian mereka menerapkan syariah itu, minimal mulai dari diri sendiri, kemudian di dalam lingkungan terdekat, yaitu keluarga dan tetangga. Dan seterusnya sampai masyarakat, negera dan dunia.

Jangan sampai orang yang teriak-teriak mengajak untuk mendirikan khilafah malah tidak mengerti detail syariah Islam. Atau tidak bisa berbahasa Arab, sehingga tidak mampu merujuk kepada turats (warisan) ilmu-ilmu keislaman yang asli. Jangan sampai dia malah orang yang masih belajar mengeja huruf Al-Quran, atau baca Quran tidak fasih yang hanya bikin kuping jadi kesemutan.

Katanya mau mendirikan khilafah, lha wong baca Quran aja termehek-mehek gitu kok?

Kenapa begitu?

Karena bicara khilafah artinya bicara berjuta bahkan bermilyar pekerjaan besar. Dan semua itu harus sudah dimulai sejak sekarang, bukan menunggu kalau khilafah sudah berdiri, baru mau kerja.

Salah satu pekerjaan rumah itu ya belajar dulu deh baca quran yang fasih, tanpa salah, dan enak didengar. Kalau itu saja masih belum dikerjakan, terus mimpi bikin khilafah, waduh . . .

Pekerjaan lainnya ?

Ya, itu tadi. Gimana caranya kita bisa punya kampus dan rumah sakit yang gratis. Sebab di masa khilafah dulu, semua kampus dan rumah sakit memang gratis, baik yang negeri atau yang swasta. Dan untuk punya kampus atau rumah sakit yang gratis, tentu tidak harus menunggu khilafah berdiri dulu. Sebaliknya, justru keberadaan kampus dan rumah sakit gratis itulah yang akan membuat orang-orang tertarik ikut mendirikan khilafah. Karena memang ada manfaat yang nyata dan langsung bisa dirasakan umat.

Bukan sekedar kampanye dan omong kosong.

Wasalam