Selasa, 17 Mei 2011

Kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin

 
Kepiawaian Syaikh Yusuf al-Qaradhawi sebagai ulama yang penulis sudah tidak diragukan lagi. Berbagai literatur fiqih berkualitas tinggi telah lahir dari tangannya, sebutlah misalnya – yang beredar di Indonesia – seperti Fiqh Zakat dan Fiqih Prioritas. Akan tetapi, selain buku-buku fiqih yang disusun secara sistematis itu, Syaikh al-Qaradhawi juga memiliki sejumlah karya fenomenal yang ‘lain daripada yang lain’.

Buku Kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin memang berbeda. Karena buku ini merupakan semacam memoar atau jurnal perjalanan, maka penuturannya begitu hidup, bahkan menggairahkan! Kita seolah-olah bisa merasakan betapa besarnya semangat dakwah Syaikh al-Qaradhawi ketika beliau menceritakan perjalanan dakwahnya dari Thanta ke Kfar Syaikh. Saat itu, beliau hanyalah seorang mahasiswa sederhana dengan uang yang sangat pas-pasan untuk pulang-pergi dalam perjalanan tersebut. Ikhwah dari Thanta mengira transportasi akan ditanggung ikhwah Kfar Syaikh, sedangkan ikhwah Kfar Syaikh justru mengira ikhwah Thanta telah membekalinya dengan dana yang cukup. Namun beliau justru terdampar di tengah jalan tanpa uang sama sekali dan perut yang kelaparan karena baru berbuka shaum dengan minuman, bertekad untuk menempuh jarak 11 kilometer dengan berjalan kaki karena tak ingin merepotkan siapa pun. Kemudian Allah menurunkan pertolongan, sehingga perjalanan yang penuh berkah itu berakhir dengan penuh kebahagiaan.

Meskipun buku ini sarat dengan kisah bahagia – dan Syaikh al-Qaradhawi memang menyatakan sendiri kebahagiaannya mendapatkan kesempatan untuk hidup sebagai bagian dari jamaah Ikhwanul Muslimin – namun daya tariknya justru terletak pada perspektif beliau dalam menyikapi cobaan-cobaan yang menimpa dakwah ini. Mulai dari pertentangan antara Al-Ikhwan dengan Partai Wafd, kepahlawanan Al-Ikhwan di Palestina yang dibalas dengan penangkapan masal oleh pemerintah Mesir, pembangkangan Nizham Khas terhadap Mursyid ‘Am, pembunuhan yang dilakukan oleh anggota Al-Ikhwan terhadap saudaranya sendiri, hingga penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nashir dan algojonya, Hamzah Basyuni.

Sebagian dari kasus-kasus yang dijelaskan dalam buku ini barangkali masih asing bagi kader dakwah di Indonesia. Banyak yang bingung mengapa para asatidz yang dulunya mendukung dakwah kini berbalik memusuhinya, padahal yang terjadi pada Imam Hasan al-Banna malah lebih buruk daripada itu. Beliau sendiri yang mendirikan Nizham Khas sebagai organisasi rahasia yang memiliki tujuan mulia demi kemuliaan Islam, namun justru Nizham Khas itulah yang pertama kali bertindak serampangan dengan membunuh seorang hakim. Memang hakim itu dikenal telah menzalimi Al-Ikhwan dalam kasus-kasus yang direkayasa oleh pemerintah, namun Hasan al-Banna sedikitpun tak pernah berpikir untuk memusuhi para hakim, apalagi memberikan instruksi untuk membunuhnya. Akibat dari tindakan ekstrem ini, tekanan terhadap Al-Ikhwan semakin kuat, hakim yang dibunuh diganti dengan yang lebih kejam, Syaikh Sayyid Sabiq yang dikenal lembut justru dituduh sebagai pembuat fatwa pembunuhan, dan Syaikh al-Qaradhawi sendiri pada akhirnya ikut dikejar-kejar dan dijebloskan ke penjara.

Pembangkangan Nizham Khas semakin nampak jelas dalam pertentangannya dengan Mursyid ‘Am kedua, yaitu Hasan al-Hudhaibi, bahkan mereka sampai menduduki Markaz ‘Am Al-Ikhwan. Di akhir bukunya, Syaikh al-Qaradhawi menjelaskan ketidaksetujuannya terhadap keberadaan organisasi rahasia seperti Nizham Khas, karena tabiatnya yang seperti ‘negara di dalam negara’ dan bahaya timbulnya kesombongan diantara anggotanya yang menyebabkan mereka tak mau lagi mendengarkan Mursyid ‘Am. Meski demikian, Syaikh al-Qaradhawi sama sekali tidak mempertanyakan keikhlasan mereka.

Syaikh al-Qaradhawi juga menggarisbawahi sikap sebagian Ikhwan yang disebutnya sebagai “tindakan kasar dalam menghukumi sesama Ikhwan yang berbeda dengan mereka”. Tindakan yang dimaksud adalah tuduhan pengkhianatan kepada Syaikh Abdul Aziz Kamil dan Syaikh Muhammad al-Ghazali, hanya karena mereka berbeda pendapat dengan Al-Ikhwan. Keduanya adalah tokoh yang sangat dihormati – bahkan dianggap sebagai guru – oleh Syaikh al-Qaradhawi. Syaikh Abdul Aziz Kamil adalah tokoh Al-Ikhwan yang sangat terkemuka, bahkan sempat dicalonkan sebagai Mursyid ‘Am kedua. Namun beliau memilih untuk bekerja sama dengan pemerintah dengan menerima jabatan sebagai Menteri. 
 
Menurut Syaikh al-Qaradhawi, itulah jalan yang telah dipilihnya, dan tak pernah ada indikasi bahwa beliau telah mengkhianati Al-Ikhwan, apalagi Islam. Demikian pula Syaikh al-Ghazali, yang seringkali dianggap sebagai tokoh kontroversial. Meski ‘berbeda jalan’ dengan Al-Ikhwan, namun Syaikh al-Qaradhawi tak menganggap perbedaan pendapat itu sebagai alasan untuk melupakan begitu saja jasa-jasa Syaikh al-Ghazali dalam dakwah. Sebaliknya, Syaikh al-Qaradhawi justru mengajukan sebuah perspektif unik dalam memandang masalah ini. Menurutnya, apa yang terjadi antara Syaikh al-Ghazali dengan jamaah Al-Ikhwan justru memiliki hikmah mendalam. Ketika Gamal Abdul Nashir menangkap dan menyiksa kader-kader dakwah di penjara-penjaranya, Syaikh al-Ghazali justru selamat dari tuduhan, sehingga beliau bebas mendakwahkan Islam di luar penjara. Dengan demikian, selalu ada saja yang melaksanakan tugas-tugas dakwah.

Mereka yang sering membaca buku yang menceritakan keutamaan Imam Hasan al-Banna barangkali perlu ‘mengimbanginya’ dengan membaca buku ini, sehingga dapat melihat sendiri bahwa Imam al-Banna sekalipun mengalami kesulitan besar dalam mengelola jamaahnya yang telah tumbuh besar. Buku ini juga baik untuk dibaca oleh mereka yang membayangkan bahwa jalan dakwah itu lurus, dan tak berliku-liku. Buku ini menyadarkan kita akan berbagai bahaya yang mengancam dakwah, mulai dari pembangkangan terhadap syura’, idealisme yang tidak mempertimbangkan kondisi, dan tingginya wawasan yang tak menjamin kepiawaian dalam menjaga ukhuwwah dalam situasi terjadinya perbedaan pendapat.

Semoga Allah merahmati Syaikh Yusuf al-Qaradhawi atas karyanya ini. Sebagaimana petuah dari Syaikh Musthafa Masyhur, jalan dakwah akan senantiasa berliku, berduri, bahkan penuh dengan jebakan. Inilah tabiat dakwah yang tak mungkin diubah. Akan tetapi, kita bisa mengubah perspektif kita dalam menyikapi fenomena tersebut. Perspektif yang ditawarkan oleh Syaikh al-Qaradhawi dalam buku ini terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.


Catatan : Buku ini diterbitkan di Indonesia oleh AULIA Publisher dalam dua jilid dan Tarbawi Press dalam satu jilid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar